facebook twitter youtube yahoomail
shadow_menu
bgContentTop
back

Senin 16 Januari 2012 17:47:48
Sejarah Busan MuslimSejak Indonesia merdeka pada tahun 1945, hubungan antara Islam dan negara adalah hubungan yang sulit.  Pemerintah Indonesia menolak permintaan menjadi negara Islam sejak kemerdekaan.  Sekalipun sebagian besar penduduk Indonesia beragama Islam, agama itu tidak ditetapkan satu-satunya agama yang resmi di Indonesia.  Ada lima agama resmi di Indonesia, dan kedudukan agama Islam sederajat dengan agama-agama lain.  Pemerintah Orde Baru selalu mendorong partisipasi Islam dalam masalah sosial, tetapi Islam politik ditindas, khususnya sumber kekuasaan Islam politik (Brenner 1996:676).  Gerakan Darul Islam - gerakan yang berusaha mendirikan negara Indonesia sebagai negara Islam, tetapi dibredel pada tahun 1962 - memberi masyarakat Indonesia dengan perasaan negatif terhadap fundamentalisme di Indonesia (Jenkins 1998). Oleh karena itu, waktu jilbab menjadi populer pada tahun-tahun 1980'an, berarti dipengaruhi oleh situasi politik di Indonesia (Marcoes-Natsir, 2004).  Pada waktu itu, dan beberapa tahun-tahun seterusnya, masih ada banyak perusahaan dan organisasi yang melarang pegawai perempuan berjilbab (Powell 2003). Kalau berdiskusi pemakaian jilbab biasanya didiskusikan di antara konteks identitas dan politik di Indonesia.  Sejak dipakai di Indonesia berjilbab itu menjadi lambang melawan kepada pemerintah, mengekspresikan pilihan sendiri dan cara menunjukkan identitas sendiri (Marcoes-Natsir, 2004). Pada tahun-tahun 1980'an para pemudi di kota mulai berjilbab.  Mereka berhenti memakai kebaya (yang menunjukkan lehernya) dan sarong (yang ketat) dan gaya rambut yang sulit.  Reaksi terhadap perilaku ini kebingungan, kemarahan dan kecurigaan.  Para pemudi dianggap sebagai orang fanatik atau fundamentalis oleh masyarakat, termasuk keluarga dan teman-teman (Geertz).  Pemerintah menciptakan aturan supaya busana Muslim dilarang di kantornya.  Pilihan berjilbab pilihan yang berat.  Pada 1980'an seorang murid di Bogor, Jawa Barat, diberi pilihan ini: memilih berjilbab atau bersekolah, tetapi tidak bisa melakukan dua-duanya (Marcoes-Natsir, 2004).  Seorang Muslimah yang berjilbab dikatakan dengan marah oleh Bapaknya 'kenapa tidak naik unta juga?'(Geertz)
bgContentBottom
  • CS 1
  • CS 2
  • Billing 1
  • Billing 2
  • Order
  • Blouse & Gamis
  • Celana & Rok
  • Perlengkapan Umroh
  • Muslim Anak
  • Muslim Anak
 
rightBgTop
close